Hari belum terlalu matang, tetapi langit begitu kelam. Kumulonimbus menyelimuti matahari yang hendak berpulang. Musim kemarau yang basah. Titik-titik air mulai berjatuhan membuat bulatan-bulatan di empang, tatkala seorang pria berjalan gontai keluar…
Cerpen : Ia Tahu Cara Memusnahkannya oleh Sandi Firly
Damang berdiri gentar di depan lumbung padi miliknya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah obor yang baru dinyalakan. Kata-kata anak muda yang bertemu dengannya senja tadi terus terngiang. Dari atas bukit yang mengelilingi…
Cerpen : Liang Kubur Eksekutif oleh Risda Nur Widia
BAGI Abullah, semua kuburan itu adalah pintu menuju surga –dan pahala adalah kuncinya. Sayangnya, dua pemikiran ini saling bertentangan. Mereka percaya dengan keyakinan masing-masing yang sulit untuk dibenarkan secara langsung. Demikianlah seluruh…
Cerpen : Mengapa Menangis oleh Ilham Wahyudi
Setelah mematikan kompor, ibu menghampiriku dengan amarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disundutnya kuat-kuat pahaku dengan rokok yang baranya nyaris menyentuh filter. Entah sudah berapa kali ibu memahat kawah luka di pahaku….
Cerpen : Tuan Jenderal oleh Rumadi
Akhirnya Tuan Presiden melangkah keluar dari istana. Demi keamanannya, orang-orang terdekatnya menyarankan agar ia jangan pergi keluar. Bahkan ajudannya, telah menyarankan Tuan Presiden pergi lewat jalur bawah tanah yang bisa saja dipergunakan…
Cerpen : Kacang Merah Panggang dan Fettuccine Alfredo Pagi Ini
SETIAP menginap di hotel bintang lima, Emel akan mencari sarapan yang sama. Kacang merah panggang dan fettuccine alfredo. Ia tidak ingat sejak kapan kebiasaan itu bermula. Yang ia ingat hanyalah bahwa pada satu…
Cerpen : Ikan untuk Bapak oleh WS Djambak
Hari ini kepala bapak pusing sekali. Betapa tidak, sepulang sekolah, anaknya yang bungsu menangis meraung-raung. Katanya, sebelum melunasi tunggakan SPP ia tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian semester. Jumlahnya bukan sedikit. Biaya SPP…
Cerpen : Tutup Cangkir oleh Muna Masyari
Barangkali Anda berpikir ini hanya perkara tutup cangkir. Terlalu kecil untuk dijadikan pemantik masalah besar. Apalagi sampai membawakan Matrawi sebilah pisau rajang dengan amarah membakar. Atau, mungkin Anda akan mencibir bahwa kewarasan…
Cerpen : Anjing Marlon oleh Kiki Sulistyo
Aku bertemu Marlon saat sedang melihat-lihat burung di pasar yang letaknya bersebelahan dengan kantor pos tua yang kalau malam areal belakangnya dijadikan arena judi. Marlon tidak melihatku, aku melihat Marlon. Dia baru…
Cerpen : Perempuan Tua di Rumah Panggung oleh Bulan Nurguna
Deretan kebaya rumahan tergantung di belakang pintu kamarnya yang tak berkunci. Ada putih gading, merah muda, abu-abu, dan lain-lain -semua berkesan kusam. Sebagian kecil dari pakaian itu masih digunakannya dan sebagian lainnya…