”Mama! Lihatlah! Ada banyak buih mengepung Monas!” seru Ningsih kepada Ibunya. Ningsih berdiri di ambang jendela kamar hotel di lantai 10 yang menghadap ke Monas. Pada Minggu pagi yang cerah itu, Ningsih…
Cerpen : Hulk Gang Melayu oleh Kiki Sulistyo
Anak-anak di Gang Melayu malafal nama “Hulk” dengan menambah huruf ‘e’ setelah huruf ‘l’, sehingga terdengar seperti “Hulek”. Nama itu jadi berkesan lucu karena dekat dengan kata ‘ulek’, yang mengingatkan pada anak…
Cerpen : Perempuan di Bibir Pantai oleh Mutiarasari
Pasir dan deru ombak sudah bosan mendengar langkah perempuan ini menunggu kekasih kembali dari sumpahnya. Angin laut terus menyapu helai-helai rambut yang terkibar pada kepala perempuan bersarang rindu yang terus memandang jauh…
Cerpen : Dua Jam yang Lalu (Janji) oleh Achmad Taufik Budi Kusumah
Sampai di depan pintu pengadilan Lulu semakin erat menggenggam tanganku. ”Apa benar-benar siap menyaksikan semua ini?” bisiknya lirih. Aku tak jawab tanya. Hanya genggaman lebih erat pada tangannya. Semua anak barangkali tak…
Puluhan Pegiat Sastra Bali Modern Baca Cerpen dan Puisi secara Virtual oleh
DENPASAR, KOMPAS — Acara unik digelar pegiat sastra Bali modern untuk merayakan Hari Ulang Tahun Ke-75 Republik Indonesia. Melalui akun media sosial masing-masing, sekitar 55 pegiat sastra Bali modern membaca cerita pendek…
Cerpen : Lelaki Dua Babak oleh Radja Sinaga
[1] Hantu itu sangat sering melintas di pekarangan rumahnya. Sebab itu pula, dirinya sering kali cemas. Dan anehnya hantu itu selalu menampakkan wajahnya tatkala ia memperhatikan hantu itu diam-diam. Setelah mereka bertatapan,…
Cerpen : Dan Semua Tertinggal oleh Herpin Nopiandi Khurosan
”Kamu gila? Tiga hari lagi kita ujian semester.” ”Gak apa-apa. Kita harus menghadapi ujian semester dengan hati yang tenang, kan? Lagi pula aku gak percaya kalau kamu belum belajar dan mempersiapkan diri…
Cerpen : Jalan Sunyi Menuju Mati oleh Fandrik Ahmad
Tak ada kesunyian yang lebih sunyi selain mati bersamaku. Kematian tanpa iringan pelayat. Kematian tanpa tangis sanak dan kerabat. Bukankah kematian mestinya dirayakan, bukan terjebak dalam kesunyian? Aku bersembunyi di sebuah tempat…
Cerpen : Ubi Jalar Madu oleh Agus Pribadi
Ibu—dia adalah ibu tiriku yang kerap menyakitiku saat ayah masih hidup—sepertinya telah berubah sejak ayah tiada awal tahun 2020 ini. Beliau—sebelumnya sering marah-marah padaku tanpa sebab, terutama jika ayah sedang tidak di…
Cerpen : Kutang oleh Risen Dhawuh Abdullah
Ada sebuah momen mendebarkan yang hampir selalu muncul di setiap pagi. Setidaknya itu yang kami rasakan—anak-anak ibu yang perempuan. Di belakang rumahlah debar itu terasa. Dua kutang digantung pada tali jemuran. Terkadang…